Membentuk Karakter Anak Usia Dini Melalui Pembiasaan Akhlakul Karimah

Permainan Lingkaran

Assalamu’alaikum wr wb.

PENGANTAR
Taburlah satu pikiran positif, maka akan menuai tindakan.
Taburlah satu tindakan, maka akan menuai kebiasaan.
Taburlah satu kebiasaan, maka akan menuai karakter.
Taburlah satu karakter, maka akan menuai nasib.
(anonim)

Karakter bangsa merupakan aspek penting yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya (SDM). Oleh karena itu, karakter yang berkualitas perlu dibina sejak usia dini agar anak terbiasa berperilaku positif. Kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak.
KARAKTER adalah watak, sifat, atau hal-hal yang sangat mendasar yang ada pada diri seseorang sehingga membedakan seseorang daripada yang lain. Sering orang menyebutnya dengan ”tabiat” atau ”perangai”. Apa pun sebutannya, karakter adalah sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran, perasaan, dan perbuatannya.
Karakter ibarat pisau bermata dua. Karakter memiliki kemungkinan akan membuahkan dua sifat yang berbeda atau saling bertolak belakang. Contoh, anak yang memiliki keyakinan tinggi. Hal ini akan menumbuhkan sifat berani sebagai buah keyakinan yang dimilikinya atau justru sebaliknya memunculkan sifat sembrono, kurang perhitungan karena terlalu yakin akan kemampuannya.
Begitu besar pengaruh karakter dalam kehidupan seseorang. Maka itulah pembentukan karakter harus dilakukan sejak usia dini.

PEMBENTUKAN KARAKTER BERLANGSUNG SEUMUR HIDUP
Proses pembentukan karakter diawali dengan kondisi pribadi ibu-ayah sebagai figur yang berpengaruh untuk menjadi panutan, keteladanan, dan diidolakan atau ditiru anak-anak. Anak lebih mudah meniru perilaku daripada menuruti nasihat yang diberikan ibu-ayahnya. Mereka belajar melalui mengamati apa yang ada dan terjadi di sekitarnya, bukan lewat nasihat semata-mata. Nilai yang diajarkan melalui kata-kata, hanya sedikit yang akan mereka lakukan, sedangkan nilai yang diajarkan melalui perbuatan, akan banyak mereka lakukan. Sikap dan perilaku ibu-ayah sehari-hari merupakan pendidikan watak yang terjadi secara berkelanjutan, terus-menerus dalam perjalanan umur anak.
Proses selanjutnya adalah memberikan pemahaman dan contoh perilaku kepada anak tentang baik dan buruk, benar atau salah, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Anak juga perlu diajarkan untuk dapat memilah dan memilih sesuatu yang baik, sehingga ia bisa mengerti tindakan apa yang harus diambil, serta mampu mengutamakan hal-hal positif untuk dirinya. Untuk itu diperlukan suasana pendidikan yang menganut prinsip 3A, yakni asih (kasih), asah (memahirkan), dan asuh (bimbingan). Anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik kalau mendapatkan perlakuan kasih sayang, pengasuhan yang penuh pengertian, serta dalam situasi yang dirasakan nyaman dan damai.

Diperlukan : Keterlibatan penuh dalam membangun karakter anak
dan Mencintainya ‘Tanpa Syarat’

Ibu-ayah yang memiliki keinginan diri dan terlibat sepenuhnya dalam menumbuhkan karakter anak akan lebih berhasil dalam membentuk karakter anak. Begitu pun jika ibu-ayah dalam kesehariannya mempraktikkan apa-apa yang akan ditanamkannya kepada anak. Contoh, ibu-ayah ingin menanamkan berperilaku jujur, bertutur kata sopan, serta bertanggung jawab. Namun bila dalam keseharian ternyata ibu-ayah justru menampilkan perilaku yang sebaliknya, maka apa yang akan terjadi dengan perkembangan jiwa anak? Anak akan mengalami suatu kebingungan, mungkin juga konflik, karena ketidakkonsistenan ibu-ayahnya dalam berkata dan berperilaku. Inilah yang menjadikan alasan bagi anak untuk tidak melakukan apa yang diinginkan ibu-ayahnya.
Anak akan mengembangkan pergaulan sosialnya secara sehat, jika dalam diri mereka ada perasaan berharga, berkemampuan, dan pantas untuk dicintai. Setiap anak membutuhkan perhatian, sapaan, penghargaan positif, dan cinta tanpa syarat sehingga anak dapat mengembangkan seluruh kemampuan yang ada dalam dirinya dengan baik. Berdasarkan pengalaman ini anak juga akan memperlakukan orang lain dengan cinta dan perhatian, memperlakukan orang lain secara positif sesuai dengan nilai-nilai moral yang diperoleh. Anak pun akan memahami, teman-temannya juga pantas dihargai, dicintai, dan diperhatikan seperti dirinya.
Menunjukkan cinta tanpa syarat tidak berarti ibu-ayah tak boleh menegur perbuatan negatif anak. Ibu-ayah tetap harus menegur dan memberikan sanksi atas pelanggaran atau perbuatan negatif tersebut. Perlu pemahaman ibu-ayah untuk membedakan antara ”perbuatan yang dilakukan” dengan “pribadi” anak itu sendiri. Bukan “pribadi” anak itu yang membuat ibu-ayah marah, tetapi salah satu perbuatannya. Tunjukkan kesalahan sikap atau perbuatannya sekaligus tetap menghargainya sebagai anak. Cinta tanpa syarat berpusat pada “pribadi” anak, sedangkan pendisiplinan berfokus pada perilaku atau sikap tertentu anak.

APA YANG HARUS DILAKUKAN IBU-AYAH ?
Dalam upaya membentuk watak atau tabiat anak, ada beberapa hal yang perlu dilakukan ibu-ayah ;

1. Menegakkan disiplin yang Konsisten. (Pembiasaan : At Tarbiyah bil ‘aadah)
• Anak harus diperkenalkan dengan batasan-batasan. Anak harus tahu mana batas-batasnya, apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan apa yang bukan merupakan tanggung jawabnya.
• Ajak anak untuk membuat batasan-batasan tersebut, tidak hanya dibuat oleh ibu-ayah saja. Pengenalan batasan merupakan dasar penegakan disiplin, sehingga anak mengetahui perilaku yang seharusnya dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.
• Ibu-ayah harus memiliki dan menampilkan sikap dan perlakuan yang ajek. Bila satu saat melarang atau membolehkan tingkah laku tertentu, di saat lain ketika suatu perilaku terulang kembali, harus tetap pada sikap yang sama (tidak berubah).
• Hindari sikap keras karena hanya akan melahirkan disiplin semu. Maksudnya, anak patuh karena takut akan mendapat hukuman dari ibu-ayah apabila ia melanggar disiplin.
• Jangan pula bersikap terlalu lemah karena disiplin akan sulit ditegakkan atau akhirnya akan menghasilkan sikap acuh tak acuh (masa bodoh), cenderung mengembangkan sikap kurang bertanggung jawab, dan tidak menumbuhkan norma-norma tertentu pada anak sebagai suatu pembentukan karakter.
2. Hadiah/Penghargaan & Konsekwensi (At Tarbiyah bil hadaya wal ‘uqubah)
Setelah anak membiasakan diri untuk suatu perbuatan atau melakukan sesuatu yang baik (positif), jangan lupa memberikan hadiah/penghargaan, meskipun hanya sebuah ucapan terimakasih dan pujian terhadap perbuatan tersebut. Dan juga memberikan konsekwensi saat ia melanggar aturan yang sudah disepakati, dengan cara mengurangi kesenangan anak (misalnya : dilarang nonton film kesukaannya, tidak boleh main sepeda hari ini, berdiam diri di sudut ruangan dll). Tujuannya adalah mengenalkan sedini mungkin pada anak, agar ia belajar mengenal dan membedakan karakter baik-buruk, benar-salah serta konsekwensinya. Sehingga mereka melakukan kebiasaan yang baik dan meninggalkan perbuatan yang buruk.

3. Menjadi contoh yang baik atau teladan bagi anak. (At Tarbiyah bil qudwah)
Ingat, anak cenderung meniru perilaku ibu-ayahnya dibandingkan hanya mendengarkan kata-katanya. Itulah mengapa, ibu-ayah harus juga berperilaku sesuai dengan nilai-nilai keutamaan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, agar bisa menjadi contoh positif atau teladan bagi anak, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian ibu-ayah, di antaranya:
• Menyadari bahwa nilai-nilai merupakan dasar segala tingkah laku dan menjadikan diri sebagai teladan utama bagi anak-anak.
• Menentukan nilai-nilai yang paling sesuai serta menunjukkan nilai-nilai mana yang harus diutamakan melalui kegiatan dan pengalaman sehari-hari.
• Menunjukkan pribadi yang ramah, positif, dan terintegrasi.
• Menghadapi anak dengan penuh penghargaan, cinta, dan pengertian.
• Meyakini akan nilai-nilai yang paling sesuai untuk dimiliki.
• Menciptakan pengalaman yang bernilai dan bermakna bersama anak, kemudian menanyakannya kepada anak tentang bagaimana sebaiknya harus mengambil pilihan atau keputusan.

4. Nasehat Menumbuhkan nilai-nilai keutamaan (spiritualitas dan akhlaq) pada anak. (At Tarbiyah bin nasihah)

Selain menjadi contoh positif atau teladan bagi anak, untuk menumbuhkan nilai-nilai keutamaan pada anak, ibu-ayah juga perlu melakukan hal-hal berikut:
• Jelaskan kepada anak yang sudah dapat berbicara, alasan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Ajak anak bertukar pikiran agar ibu-ayah dapat mengetahui pendapatnya tentang seberapa jauh ia memahami nilai-nilai tersebut.
• Jelaskan kepada anak mengenai dampak perilaku positif maupun negatif yang dilakukannya. Contoh, ketika anak merapikan mainannya, ibu-ayah dapat mengatakan, ”Nak, mainannya kalau dibereskan jadi rapi dan kamu akan lebih mudah untuk menemukan mainan yang ingin kamu mainkan.” Begitu juga ketika anak melakukan kesalahan, semisal ia memukul adiknya, katakan, “Adik jadi menangis kalau kamu pukul.”
• Berikan penghargaan kepada anak, seperti pujian, pelukan, ciuman, ucapan terima kasih, dan lainnya, ketika anak berperilaku positif, sehingga anak terdorong untuk mengulangi perilaku positif tersebut.
• Bacakan dongeng atau cerita yang mengisahkan suatu perbuatan baik/positif. Gunakan bahasa sederhana yang sesuai dengan kemampuan berpikir anak agar anak dapat memahami dan menikmati isi cerita tersebut.

5. Merancang, menyiapkan dan mengawasi lingkungan bermain yang ramah anak (At Tarbiyah bil muroqobah)

• Waspadai tayangan TV, komik, game dan internet yang ditonton anak (lakukan pendampingan.
• Fasilitasi dengan buku, mainan dan kegiatan bermain yang berkualitas.
• Waspadai makanan/jajanan yang tidak sehat dan membuatnya ketagihan.
• Siapkan makanan sehat yang fariatif di rumah dan sekolah.
• Memantau perkataan dan perilaku teman sepermainannya dan juga orang dewasa disekelilingnya.
• Mengajak beraktivitas positif bersama keluarga (beribadah, olah raga dan rekreasi)
• Berikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk mengelola lingkungan dan melakukan kegiatan bersama.

6. Pembelajaran Holistik Melalui Bermain
• Usia 0 – 8 tahun, otak kanan manusia berfungsi 80% dan 20% nya otak kiri, sehingga mereka sangat senang             bermain, bahkan dunianya adalah bermain. Bagi mereka Bermain = Belajar = Bekerja. Sayangnya banyak orang tua yang belum memahami akan hal ini, sehingga pemahaman bermain berbeda dengan belajar. Ibu-ayah hanya memahami bahwa belajar itu beda dengan bermain, sehingga anak-anak di’paksa’ untuk belajar dengan duduk,           diam, membaca, menulis dan menghitung.
• Padahal dalam konsep pembelajaran holistik, saat anak bermain pasir, air, playdough, krayon dsb mereka             sebenarnya belajar sensorimotorik yang mengembangkan otot halusnya, kreativitas dan kecerdasan emosinya.
• Saat anak mengelompokkan biji, batu, daun, mainan dsb, ia sebenarnya belajar konsep matematika, kognitif,           membaca warna, bentuk dan kecerdasan kognitif lainnya.
• Saat anak bermain tradisional, main peran pura-pura, gerak dan lagu, sebenarnya ia sedang melatih motorik kasar,   kecerdasan sosial emosional dan berimajinasi menjadi tokoh atau profesi yang suatu saat nanti bermanfaat dalam     kehidupannya.
Pesan Ki Hajar Dewantara ;
“Apabila ada anak yang suka bermain-main, bolehlah dipastikan bahwa anak itu sedang sakit jasmaninya maupun       rohaninya”
Dibeberapa Negara maju, anak usia dini (0-8 th) hanya boleh diajarkan baca tulis hitung, setelah mereka mampu membuang sampah ditempat sampah, antri saat bersama, mengucapkan terimakasih, minta tolong, permisi dan maaf, tanpa disuruh oleh orang tua atau gurunya. Jadi akhlaq menjadi penekanan daripada kemampuan kognitifnya. Ternyata para orang tua lebih khawatir jika anaknya tidak bisa melakukan itu daripada tidak bisa baca tulis hitung. Bagaimana dengan kita ?

7. Doa yang khusyuk dari kedua orang tua
Ingatlah nasehat Nabi Muhammad SAW : Allah SWT tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lengah & ragu.         Jadi Allah SWT pasti mengabulkan Doa yang Sepenuh Hati dan Doa yang Selaras dengan Perbuatan

Penutup
Peran ibu-ayah menjadi sangat penting dalam pembentukan karakter anak untuk siap menghadapi dunia di masa yang akan datang. Pada awalnya anak akan meniru perilaku ibu-ayah, karena ibu-ayah adalah orang pertama yang dekat dan dikagumi oleh anak. Setelah itu, lingkungan rumah juga berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Hal ini dapat terlihat dari cara berpakaian, bersikap, dan berperilaku sehari-hari seorang anak yang biasanya tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang ada dalam lingkungan rumahnya. Ibarat pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Annisa ayat 9

QS. An Nisa’: 9
“Dan hendaklah kamu takut (andaikata sesudah wafatmu) meninggalkan dibelakangmu keturunan yang lemah, yang kamu khawatirkan kesejahteraan mereka,
dan bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang benar.”

Wassalamu’alaikum wr wb.

Makalah disampaikan oleh :
Dedy Andrianto Praktisi Pendidikan dan Parenting
Hp. 081 22856044 email : andriantodedy@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *